Dalam arahannya, Kepala Seksi PAIS menjelaskan
bahwa pembagian rekening bagi guru PAI lulusan PPG tidak direncanakan secara
khusus untuk dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Menurutnya,
waktu pelaksanaan kegiatan tersebut lebih dipengaruhi oleh proses administrasi
dan regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan anggaran.
Beliau menjelaskan bahwa pada awalnya terdapat rencana penundaan kegiatan karena adanya informasi dari pemerintah pusat bahwa pembayaran bagi lulusan PPG tahun 2025 masih menunggu tambahan anggaran. Proses penyesuaian anggaran tersebut diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan karena mekanisme penganggaran mengikuti dokumen Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) yang telah ditetapkan setiap tahun.
Kepala Seksi PAIS juga menyampaikan bahwa
kebutuhan anggaran untuk pembayaran tunjangan profesi guru PAI di Kabupaten
Tasikmalaya mencapai sekitar puluhan miliar rupiah dalam satu tahun. Setelah
anggaran tersedia, proses pencairan tidak dapat langsung dilakukan karena harus
menunggu petunjuk teknis yang mengatur mekanisme penyaluran. Beliau menyebutkan
bahwa petunjuk teknis tersebut biasanya terbit pada pertengahan tahun, namun
pada tahun ini terbit lebih awal sehingga proses administrasi dapat
dipersiapkan lebih cepat.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga
mendorong para guru PAI untuk terus meningkatkan kompetensi profesional,
khususnya dalam kemampuan membaca Al-Qur’an. Berdasarkan hasil asesmen program
Tuntas Baca Al-Qur’an (TBQ) yang telah dilakukan sebelumnya, masih terdapat
guru yang berada pada tingkat pratama sehingga perlu terus meningkatkan
kemampuan hingga mencapai tingkat mahir. Menurutnya, kemampuan membaca
Al-Qur’an secara fasih dan sesuai kaidah tajwid merupakan kompetensi mendasar
yang harus dimiliki oleh seorang guru PAI.
Selain itu, Kepala Seksi PAIS mengingatkan
pentingnya menjaga sikap saling menghargai di tengah adanya perbedaan kebijakan
dalam berbagai program peningkatan kompetensi guru. Perbedaan pola pembiayaan
maupun mekanisme program di berbagai periode kebijakan diharapkan tidak
menimbulkan perbandingan yang kurang sehat di antara sesama guru. Perubahan
kebijakan, menurutnya, merupakan bagian dari dinamika regulasi yang telah
dirancang oleh pemerintah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pada setiap
periode.
Beliau juga mengajak para guru untuk menjadikan
kesempatan yang ada sebagai bentuk syukur dengan meningkatkan kualitas pengabdian.
Dalam penjelasannya, ia mengutip konsep dalam kitab Bidayatul Hidayah karya
Imam Al-Ghazali yang membagi manusia ke dalam tiga golongan, yaitu golongan
orang yang selamat (salim), golongan orang yang beruntung (rabih), dan golongan
orang yang merugi (khasir).
Guru PAI diharapkan tidak hanya berada pada
tingkat selamat dengan sekadar menjalankan kewajiban mengajar, tetapi mampu
mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan memberikan manfaat yang lebih luas
bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui
partisipasi aktif dalam organisasi profesi, dukungan terhadap kebijakan
pendidikan, serta kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan agama Islam.
Beliau menambahkan bahwa kondisi ketersediaan anggaran di setiap daerah tidak selalu sama. Beberapa daerah bahkan masih menunggu proses pencairan untuk program PPG tahun 2025. Oleh karena itu, pencairan yang dapat dilakukan di Kabupaten Tasikmalaya diharapkan dapat disyukuri sebagai bagian dari upaya pelayanan yang terus dioptimalkan.
Sebagai penutup, Kepala Seksi PAIS menyampaikan
harapan agar pertemuan tersebut dapat memperkuat komunikasi antara para guru
PAI dengan Seksi PAIS Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya. Beliau juga
membuka ruang komunikasi bagi para guru untuk menyampaikan masukan atau kendala
secara langsung kepada Seksi PAIS sehingga solusi yang diberikan dapat lebih
tepat dan konstruktif.
Setelah kegiatan pembinaan selesai, acara
dilanjutkan dengan pembagian rekening kepada para guru PAI lulusan PPG yang
dipandu langsung oleh pihak Bank BJB Syariah guna mendukung kelancaran proses
administrasi penyaluran hak-hak guru ke depan.


.jpeg)