Kabupaten Tasikmalaya, Kementerian Agama
Kabupaten Tasikmalaya menggelar kegiatan Kajian Ramadan 1447 H pada Rabu
(4/3/2026) di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya. Kegiatan
tersebut diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan Kemenag Kabupaten
Tasikmalaya serta disiarkan secara langsung melalui media sosial resmi Kemenag
sehingga dapat diikuti oleh masyarakat secara lebih luas.
Pada kegiatan tersebut, Kepala Seksi Pendidikan
Agama Islam (PAIS) Kementerian Agama Kabupaten Tasikmalaya, Dr. H. Akhmad
Buhaiti, S.Ag., M.Si, hadir sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, ia mengajak
seluruh peserta untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum memperkuat
keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta melakukan introspeksi diri.
Beliau mengaitkan fenomena gerhana bulan yang
terjadi pada awal Ramadan dengan pesan tauhid yang terkandung dalam Surah
Fussilat ayat 37. Peristiwa alam tersebut dipandang sebagai pengingat bagi
manusia tentang kebesaran dan kekuasaan Allah SWT serta menjadi sarana untuk
memperkuat kesadaran spiritual.
Lebih lanjut disampaikan bahwa terdapat beberapa komitmen tauhid yang perlu ditanamkan dalam diri setiap manusia. Pertama, keyakinan bahwa Allah merupakan Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas seluruh alam semesta. Segala sesuatu yang ada di dunia diciptakan dengan tujuan tertentu, sehingga keberadaan makhluk menunjukkan adanya Sang Pencipta. Kedua, kesadaran bahwa seluruh ciptaan merupakan makhluk Allah yang harus tunduk dan patuh terhadap ketentuan-Nya.
Selain itu, manusia juga diingatkan untuk
meneladani ketaatan makhluk ciptaan Allah seperti matahari dan bulan yang
senantiasa tunduk pada ketentuan-Nya. Hal tersebut menjadi pelajaran bagi
manusia untuk menumbuhkan sikap tawadu serta kesadaran untuk senantiasa berdoa
dan bersyukur atas segala nikmat yang diberikan. Komitmen lainnya adalah
meneguhkan keesaan Allah dengan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi segala
larangan-Nya.
Dalam kajian tersebut juga disampaikan beberapa
hikmah dari Surah Fussilat ayat 37, di antaranya pentingnya melakukan
introspeksi diri serta menjauhi sifat iri dan dengki dalam kehidupan
sehari-hari. Selain itu, bulan Ramadan dipandang sebagai fasilitas yang Allah
berikan kepada umat manusia untuk memperbaiki diri melalui peningkatan amal
ibadah.
Peserta kajian juga diajak untuk memperbanyak
dzikir, membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat malam, serta meningkatkan
sedekah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Sedekah tidak hanya
terbatas pada harta, tetapi juga dapat dilakukan melalui tenaga maupun berbagai
bentuk kebaikan lainnya.
Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan
pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan lahiriah dan batiniah selama
menjalankan ibadah puasa. Kesehatan spiritual dinilai perlu terus dilatih agar
kualitas keimanan seseorang meningkat dari waktu ke waktu.
Mengacu pada Surah An-Nahl ayat 97, dijelaskan
bahwa Allah tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin dalam hal
kesempatan melakukan kebaikan. Setiap manusia memiliki derajat yang sama untuk
melakukan amal saleh, terlebih pada momentum bulan Ramadan yang penuh
keberkahan.
Selain itu, penting bagi setiap individu untuk
memiliki manajemen waktu yang baik selama Ramadan, termasuk memanfaatkan
waktu-waktu mustajab seperti menjelang berbuka puasa dan saat sahur untuk
memperbanyak doa dan ibadah.
Sebagai bagian dari refleksi spiritual,
disampaikan pula enam kecerdasan yang dapat menjadi tolak ukur seseorang dalam
mencapai ketakwaan melalui ibadah puasa, yaitu kecerdasan naturalistik,
interpersonal, sosial, eksistensial, spiritual, dan intelektual. Keenam aspek
tersebut dapat menjadi sarana evaluasi diri untuk melihat sejauh mana perubahan
positif yang terjadi dalam diri selama menjalani ibadah Ramadan.


.jpeg)